Tuesday, December 15, 2015

(Semacam) Review: Etude Hot Style Bubble Hair Coloring BR05

Hai ;)

Sebenarnya aku bukan orang yang suka melakukan review produk tapi entah mengapa tiba-tiba ingin membuat review tentang produk ini.

Beberapa saat yang lalu aku tiba-tiba ingin membuat perubahan pada rambut. Sayangnya rambutku masih terlalu pendek untuk dipotong lagi. Selain itu aku juga berencana untuk memanjangkan rambut karena merindukan rambut yang agak panjang. Akhirnya aku pun berniat untuk mengecat rambut.

Karena baru pertama kali ini aku mengecat rambut, maka sebelumnya aku pun melakukan riset terlebih dahulu. Warna apa yang cocok untuk kulitku, cat rambut yang bagus, cara merawat rambut pasca cat rambut, dan sebagainya. Akhirnya pilihanku pun jatuh pada pewarna rambut Etude Hot Bubble Hair Coloring. Melihat review dari banyak orang, aku mendapat info kalau pewarna rambut yang ini paling mudah pengaplikasiannya. Nggak ribet dan nggak berantakan walaupun pilihan warnanya nggak terlalu banyak. Selain itu karena ini produk asia, jadi katanya cocok untuk rambut asia, alias rambut yang warna dasarnya hitam.

Setelah galau memilih warna dan melihat di internet, akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli warna Khaki Brown yang memiliki nomer seri GR07. Aku pun pergi ke counter Etude yang ada di salah satu mall di Jogja.

pilihanku yang kedua dari kanan barisan atas

Dengan yakin aku pun mengambil box yang aku yakin sebagai warna Khaki Brown dan segera ke kasir untuk membayarnya. Beruntung sekali karena Etude sedang mengadakan promo sehingga dengan membeli pewarna rambut itu, aku bisa membeli cat kuku Etude Play dengan hanya membayar Rp 15.000,- saja padahal harga aslinya jauh. Hahaha kapan lagi. Setelah itu mbak-mbak penjaganya juga bilang kalau aku mendapatkan masker gratis tinggal pilih mau yang mana. Karena bingung mau pilih apa akhirnya aku ambil Etude Mask Shea Butter.


Setelah berbelanja dengan hati senang pun aku pulang ke rumah untuk segera mengecat rambut. Sambil bersiap-siap mengecat rambut, aku melihat boxnya. Tertulis "BR05". Lho? kok BR05? kan aku maunya GR07. Setelah aku cek ulang ternyata AKU SALAH BELI! yaampuun karena terlalu semangat aku pun salah beli. Soalnya warna boxnya sama banget dengan warna yang aku pengen di internet. Aku pun kembali membuka gambar yang di internet. Aku cari warna BR05. Beda bangeeet warna boxnya sama gambar yang ada di internet :( sedih kan. BR05 ini warnanya cenderung kecoklatan agak merah-orange. Padahal aku pengennya coklat-kehijauan. Huhuhu.

Kebetulan lagi salah satu teman adikku sempet nyobain warna BR05 ini, jadi aku minta tolong adikku buat nanya ke temennya hasilnya bakal kayak apa. Setelah mendapat info kalau sekali cat aja warnanya jadinya nggak terlalu merah tapi bagus dan terang, aku pun kembali semangat.

Tapi karena udah terlanjur beli, yasudah lah nggak apa-apa daripada mubazir kan. Lagipula semangat ngecat rambutnya cukup tinggi jadi yaudah lah cat aja!

Oiya karena awalnya aku nggak ada rencana buat melakukan review ini, maka aku nggak melakukan foto before after. Tapi aku sempat foto beberapa hari sebelumnya, jadi pakai foto ini aja ya.


aku yang kanan


Mengikuti instruksi di boxnya, aku pun mengecat rambut. Karena rambutku pendek, aku cuma pake 1/3nya aja rasanya udah cukup banget. Aku pun menunggu warna meresap dan kemudian membilas dan memakai conditionernya.

Sekali pakai.......... hm kok kayaknya ga ada bedanya sih..

Aku pun nyoba pakai sekali lagi karena sisanya juga masih banyak.

Kedua pakai........... hmm ya keliatan dikit lah.........

Tapi setelah itu aku malas untuk mengulang lagi karena hari sudah malam. Kalau keramas lagi nanti masuk angin. Akhirnya aku membiarkan rambutku seperti itu.

Hasilnya adalah rambutku yang sekarang. Yap seperti ini kira2 kalau foto dengan cahaya natural.

foto sama ibu

Nggak ada bedanya kan? cuma sedikit beda. Padahal pengen kelihatan beda. Tapi hasilnya nggak sebeda itu. Huhu.

Tapi tenang, setelah 1-2 minggu, warnanya mulai menjadi lebih terang. Ya walaupun enggak banyak sih. Tapi sekarang kelihatan lebih coklat. Tapi kalau sekilas tetep nggak kelihatan sih, cuma kalau ada di bawah cahaya lampu kuning, atau cahaya matahari pagi baru lumayan kelihatan. Kalau di bawah cahaya lampu kuning kira-kira kayak begini.


Yap jadi itu adalah pengalamanku mengecat rambut untuk pertama kalinya. Dibilang fail juga enggak, sukses pun enggak. Tp ya seneng aja dengan pengalaman ini. Hahahaha.

OVERALL:

> Hati-hati dalam membeli produknya, pastikan itu benar-benar warna yang kamu inginkan. Jangan asal mengandalkan insting seperti aku.
> Warna dasar rambut berpengaruh banget sama hasil akhirnya. Karena warna dasar rambutku hitam pekat, jadi warnanya nggak terlalu keluar.
> Kalau dipakai 2 kali hasilnya lebih terang dari sebelumnya.


+ Gampang dipakai
+ Nggak berantakan
+ Warnanya cukup rata
+ Cocok buat rambut gelap

- Warna di box di dunia maya beda dengan kenyataannya
- Warnanya kurang keluar buat rambut hitam


Cukup begitu review ini. Semoga membantu, ciao~

that person

that person is not the type of person who can say hi easily.
that person prefers to be silent than saying something wrong.
that person who told me not to be careless with my words.
that person who you'd judge to be quite an awkward person.
that person who actually listened to whatever you say.
that person who actually think thoroughly.
that person who do weird things.
that person you can't understand.
that person's mind is indeed not for you to understand. It's for me.

Friday, June 19, 2015

tolong

Hari ini saya berkutat dengan pikiran saya sendiri. Sungguh perdebatan yang sangat hebat terjadi di otak saya. Sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak googling. Tolong bantu saya.

"apa sih bahasa inggrisnya tas serut?"

Thursday, June 18, 2015

menguping percakapan di Artjog 8

Bulan ini memang bulan-bulannya seniman bangun dari hibernasinya. Ya enggak sih.. nggak gitu sih. Saya juga bukan seniman sih jadi ya nggak tau sebenernya. Asal sok tau aja lah. Hahaha. Tapi yang jelas bulan ini ada beberapa acara dan pameran seni besar di Jogja. Salah satunya, tentu saja, adalah Art Jogja atau Artjog.

Saya sendiri memang suka melihat pameran seni. Walaupun jujur saja saya juga sering nggak paham dengan pesan yang ingin disampaikan si seniman dalam karya seninya, tapi saya senang melihat karya-karya orang lain. Melihat karya seni seperti itu membuat saya juga ingin membuat sesuatu.

Beberapa hari yang lalu saya datang ke Artjog bersama 3 teman saya. Walaupun kami datang berempat, tapi akhirnya di dalam Artjog kami berpisah-pisah karena tenggelam dalam minat dan kepentingan masing-masing. Suasana Artjog waktu itu sangat ramai padahal kami datang di hari kerja, siang pula.

Masuk ke Artjog saya melihat banyak orang yang membawa kamera-kamera besar alias DSLR. Banyak juga orang yang berdandan rapi dan cantik. Saya ingat baru beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali datang ke Artjog suasananya sangat berbeda. Waktu itu Artjog masih sepi dan orang-orang hanya mengandalkan kamera handphone untuk mengabadikan karya disana. Sekarang ada banyak karya yang boleh dipegang dan bisa diajak berinteraksi. Karena itu pasti banyak orang yang datang untuk berfoto bersama karya.

Saya pun kembali ke kepentingan utama saya yaitu untuk melihat-lihat karya. Ketika saya sedang melihat salah satu karya di sana, saya mendengar percakapan menarik dari 2 orang yang tiba-tiba muncul di sebelah saya. Karya yang saat itu saya lihat adalah sebuah miniatur karya Dea Aulia Widyaevan dengan penampakan seperti ini:


dan keterangan seperti ini:


Karya ini berangkat dari persoalan degradasi nilai dalam sebuah kota. Kota Bandung mengalami sebuah anomali saat identitas tidak lagi berasal pada sebuah catatan sejarah. Hal ini ditunjukkan melalui konsidi pusat kota, kini menjadi agen kapital. Pada karya ini, sebuah miniatur alun-alun Bandung tahun 1930an diluruhkan dengan air sebagai simbol waktu. Peristiwa peluruhan ini bersifat performatif dari hari kehari, sebagai ungkapan satir tentang memori kota yang hilang.

Saya baru selesai membaca keterangan itu ketika ada 2 orang tiba-tiba berdiri di sebelah saya. Sebut saja orang A & B. Saya pun tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka.

A: "Eh! lihat deh sebelah sini bagus nih! fotoin aku disini dong!"
B: *sambil membawa DSLR* "Boleh-boleh! cahayanya bagus dari sini nih."
A: *berpose* *peace* *merentangkan tangan* "Gimana? aneh nggak hasilnya?"
B: "Enggak kok dah bagus nih. Gantian dong fotoin aku juga!"
A: *mengambil kamera si B, memotret B yang sedang asyik berpose*
B: "Udah.. nggak aneh kan?"
A: "Bagus kok tenang,,"

Setelah puas berfoto-foto, mereka pun melihat karya yang baru saja mereka ajak berfoto.

B: "Ini apa sih? kok ada air-airnya gini."
A: "Gatau deh.. eh ini  kok gini sih, remuk gini bangunannya"
B: "Eh iya juga kok ancur gitu ya? yaampun.. kayaknya ini gara-gara dipegang orang deh"
A: "Parah emang orang-orang tu nggak bisa diatur banget ya, jelas-jelas itu ada tanda do not touchnya. Masih aja ada gitu yang iseng banget pengen pegang. Jadi ancur gini kan karyanya. Gimana sih nggak ngertiin perasaan senimannya banget."
B: "Ckckck payah ah orang-orang sembarangan ngancurin karya."
A: "Hmm yaudah yuk biarin aja, kita cabut aja daripada dikirain kita yang ngerusakin."
B: "Ayok, kita belum foto di sebelah sana tuh!" *menunjuk sebuah karya*

Setelah itu mereka berdua pun pergi berfoto di karya yang lain.

Sementara saya disitu cukup ternganga dan ingin tertawa.

Bhay.

Wednesday, June 17, 2015

punya cerita tapi nggak sempat nulis

Ada yg menarik untuk diceritakan tapi belum sempat nulisnya. Masih harus melakukan banyak hal lain. Sampai jumpa di post berikutnya!

Tuesday, June 16, 2015

menjawab pertanyaan dari tita di masa lalu

Hari saya tidak sengaja menemukan diary saya waktu SD - SMP. Sangat menyenangkan membaca diary lama. Banyak cerita lucu dan alay yang saya temukan di lebar kehidupan saya di masa lalu. Tapi yang paling membuat terharu adalah ketika saya menemukan amplop dalam diary saya yang bertuliskan "untuk Tita yang berumur 20 tahun."

Ternyata saya pernah membuat surat untuk diri saya di masa depan, dan kebetulan sekali saya menemukannya kembali di umur 20 ini. Padahal saya sudah lupa kalau saya pernah menulis surat itu. Ajaib memang. Surat itu disegel dengan rapi tapi bagian pinggir ampopnya sudah lapuk oleh waktu. Saya pun membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada list pertanyaan dari Tita di masa lalu. Sekalian saya mau menjawab pertanyaan saya, mari kita mulai 

"Halo tita yang sekarang berumur 20 tahun. Kamu sudah tua ya sekarang?"

Hmm sebenernya ya nggak tua-tua amat sih rasanya.. sama aja kok kayak jaman aku adalah kamu. Menua itu nggak kerasa, bentuknya aja yang berubah, jiwanya enggak.

"Apa sekarang kamu jadi perempuan yang baik?"

Waduh Ta, berat amat pertanyaanmu. Tapi aku pengen bilang iya, sepertinya aku tumbuh menjadi perempuan yang cukup baik. Emang nggak sempurna sih, tapi nggak buruk juga. Alhamdulillah..

"Apa kamu sekarang punya masalah?"

Ha ha ha! Tita yang lama polos sekali.. tentu saja aku punya dan sudah terlibat dalam banyak masalah.. Tapi insyaallah semuanya ringan dan bisa diselesaikan kok, doakan ya :")))

"Apa kamu seneng sama hidupmu yang sekarang?"

Alhamdulillah selama ini aku senang-senang aja. Cuma belum lama ini baru dapat suatu kabar yang membuat aku kurang bersyukur. Semoga segera kembali ke jalan yang benar ya...

"Pernahkah kamu mensyukuri hidupmu yang sekarang?"

Aku selalu bersyukur sama apa yang aku punya sekarang. Sepertinya banyak banget keberuntungan yang datang ke aku. Mungkin emang aku nggak selalu setiap saat bersyukur, tapi aku banyak bersyukur kok.

"Apa kamu masih cengeng?"

Huaa Tita, no one seems to understand me better than you(me). Sedihnya masih. Walaupun nggak separah waktu pertanyaan ini kamu tulis. Yang jelas sih hidupmu akan membaik secepatnya. Jangan sedih lagi Tita, di masa sekarang kamu nggak perlu lagi nangis tiap hari. Semuanya membaik kok, sangat!

"Apa kamu udah suka sama seseorang yang spesial?"

Sejak kamu mengeluarkan pertanyaan itu, aku udah suka sama banyak orang malah. Tapi iya saat ini ada 1 orang yg cukup outstanding dibandingkan lainnya. Hahahaha yang baca jangan ge er ya.

"Kalau iya, apa dia juga suka sama kamu?"

Aku sih nggak mau ge er ya, tapi kayaknya sih iya. Tapi ya gatau sebenernya gimana.. coba dong kamu tanyain hahaha.

"Pernah nggak ngerasain patah hati?"

Heh anak kecil pikirannya kok cinta-cintaan sih hahaha. Walaupun pertanyaan ini bisa aja aku jawab "pernah, patah hati karena dapet nilai jelek" tapi aku yakin ini konteksnya patah hari yang terkenal sangat menyakitkan itu. Iya, pernah.

"Kalau pernah berarti punya mantan dong? mantannya ada berapa?"

Prediksimu meleset! HAHAHA! patah hati tidak selalu berbanding lurus dengan punya mantan kok. Sejauh ini aku sudah merasakan patah hati tanpa punya satu mantan pun.

"Apa akhirnya kamu berhasil punya pacar?"

Pertanyaan yang cheesy banget, but yes i did it.

"Kalau punya apakah dia baik? apa dia tau kamu cengeng? semoga kamu udah nggak cengeng. Kasihan dia."

Hahaha tau aja sih Tita bisa aja deh. Giliran tanyak kayak ginian langsung banyak pertanyaannya. Iya dia baik kok, jangan khawatir. Dia tau aku cengeng dan aku masih cengeng. Tapi dia tetep baik kok, no problem! that's one thing to be grateful for :)

"Kamu masih inget nggak sama aku yang sekarang? tebak aku lagi dimana"

Dear Tita di masa lalu, maafkan tita dari masa depan ini, tapi aku tidak ingat huhuhuhu :'(( aku bahkan nggak ingat pernah menulis surat yang isinya pertanyaan kayak gini. Tapi tebak-tebakan aja, kamu mungkin lagi tiduran di kasur sambil nulis surat ini di kamar rumah D-11 PSA.

"Tita kamu harus selalu bersyukur sama hidupmu yang sekarang, jangan kayak aku. Aku belum bisa bersyukur. Karena aku belum bersyukur, aku nulis surat ini buat kamu. Waktu surat ini kamu buka, semoga hidupmu sudah lebih bahagia dari masa ini. Semoga kamu sudah punya banyak teman dan kamu sudah nggak sering sedih. Aku sekarang mau berusaha supaya kamu bisa buka surat ini dalam keadaan yang jauh lebih baik. Kalau kamu masih sedih, ingat kamu harus bikin kamu yang lebih tua lagi bahagia. Banyak-banyak senyum ya Ta, jangan sedih terus. Kalau kamu masih sedih berarti usahaku belum berhasil. Dan kalau kamu bahagia, tolong jangan berhenti berusaha ya, kamu nggak akan mau balik lagi kayak dulu. Jangan pernah balik."

_____________________________________________________

Itulah paragraf penutup di surat itu. Saya bacanya sampai nangis. Oke saya masih cengeng. Tapi nggak papa kok Ta, apa yang kamu upayakan sudah berhasil. Terimakasih sudah berusaha berubah untuk aku di masa sekarang. Terimakasi juga sudah mengingatkanku untuk tidak berhenti berusaha demi Tita di masa yang akan datang.

Aku sangat bersukur menemukan surat ini.

Kesannya narsis, tapi surat ini sangat berarti buat aku. Memang benar kata pepatah bule,
"No one understand you better than yourself."

Monday, June 15, 2015

EMBUH

LAGI KESEL PLIS OJO KENO DENDA